<<<<<<<<<.........KREASI KITA.......>>>>>>>>

IKATAN PELAJAR MUHAMMADIYAH BUMIAYU

Sabtu, 06 Februari 2010

IPM Sumbang Kader Sebagai Kontributor Website Muhammadiyah



Mataram – Acara penutupan Konferensi Pimpinan Wilayah (Konpiwil) Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) Se-Indonesia kali ini diwarnai dengan pengukuhan kader IPM sebagai kontributor website www.muhammadiyah.or.id.  Pengukuhannya dilakukan oleh Ketua Lembaga Pustaka dan Informasi (LPI) PP Muhammadiyah, Budi Setiawan, ST,  setelah menutup acara Konpiwil mewakili PP Muhammadiyah.
Menurut perwakilan manajemen website yang merupakan unit kerja PP Muhammadiyah dibawah LPI tersebut, Barori Budi Aji menyatakan bahwa pengukuhan ini juga merupakan apresiasi kepada aktifnya kader-kader IPM  membantu peliputan berita, khususnya berita-berita yang berasal dari daerah. “Kami berharap, apresiasi ini tidak berhenti disini, namun bisa berlanjut dengan komitmen kader  yang lebih bagus dan juga berkembang adanya kontributor dari kader IPM asal daerah lain” harapnya sebelum acara pengukuhan.
Pada acara kali ini, ada tujuh kontributor berita website yang berasal dari kader IPM  asal  Sumatera Utara, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Jawa Tengah, Bengkulu, Sulawesi Utara dan Bali. (arif)

sumber berita :
http://www.muhammadiyah.or.id/index.php?option=com_content&task=view&id=1780&Itemid=2

Zona Apresiasi Pelajar : Aku untuk Bangsaku



Jakarta – Bidang Apresiasi, Seni, Budaya dan Olaharaga (ASBO) Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Muhammadiyah (PP IPM) saat ini sedang mensosialisasikan agenda akbarnya dengan nama Zona Apresiasi Pelajar. Kegiatan ini akan berlangsung sejak Januari – Juli 2010.
Demikian yang disampaikan Abrar Aziz, Ketua ASBO Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Muhammadiyah (PP IPM) melalui surat elektronik yang dikirimkan ke alamat redaksi@ipm.or.id This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it . “Sebagai bagian dari gerakan pelajar, Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) merasa berkepentingan dalam upaya mencari jalan keluar dari krisis kebudayaan yang melanda kaum pelajar. Sebuah ikhtiar menemukan kembali identitas generasi muda melalui program yang kami sebut Zona Apresiasi Pelajar (ZAP) dengan tema Aku untuk Bangsaku“, kata Abrar Aziz
Pada periode sebelumnya, PP IPM juga mengadakan Pekan Olah Raga dan Seni Pelajar Muhammadiyah, kemudian pada periode ini dengan format yang hampir sama PP IPM mengadakan agenda Zona Apresiasi Pelajar dengan tujuan memberi ruang kreatifitas bagi pelajar, apresiasi terhadap hasil karya pelajar dan refleksi Kebudayaan.
Sementara itu, Sadek Bahta, Ketua Panitia Zona Apresiasi Pelajar PP IPM mengatakan bahwa dalam agenda ini IPM mempersembahkan kegiatan berupa lomba cipta lagu remaja, lomba penulisan puisi dan cerpen, pembuatan album musik remaja, pembuatan buku kumpulan cerpen dan puisi dan diakhiri dengan Festival Kebudayaan Pelajar.
“Harapannya dengan terus mengadakan kegiatan seperti ini, kreatifitas pelajar dapat terwadahi dan IPM dapat menghasilkan kader bangsa yang konsen dibidang seni, budaya dan olahraga“, tambah Sadek. Untuk info lebih lanjut tentang Zona Apresiasi Pelajar dapat menghubungi kantor PP IPM di Jakarta (021-3103940), Jogja (0274-411293) atau contact person Abrar Aziz (081225993930/ 085711158611) dan Rizki P. Dewantoro (08562347328) Atau dapat mendowload filenya di website ipm. (arp)

Dari Bedah Buku, Speed Reading hingga Bedah Film IPM Gresik

Monday, 25 January 2010 21:31
Gresik, Jawa Timur- Acara bedah buku dan pelatihan speed reading yang diadakan oleh PD IPM Kabupaten Gresik nampaknya berjalan cukup lancar. Buku yang di bedah dalam acara tersebut berjudul, “Menjadi Pejuang, 17 Kisah Inspiratif Aktivis IPM”. Ridho Al Hamdi bertindak sebagai penulis sekaligus pembicara dalam acara yang digelar pada 23-24 Januari 2010. Bertempat di SD Muhammadiyah GKB Gresik, bedah buku dimulai dengan moderator Ainul Muttaqin, SP dan pengkanter Dian Berkah, S.Hi, M.Hi.
Buku menjadi pejuang ini mengisahkan 17 pengalaman pejuang IPM baik suka maupun dukanya. Menurut Ridho, kabid PIP PP IPM, kita harus menjadikan menulis sebagai hobi. Karena, jika tidak demikian kita akan selalu menunda-nunda keinginan untuk menulis. Menulis sebaiknya dilakukan sedini dan semudah mungkin, mulai dari menulis buku diary yang dianggap sepeleh.
Acara yang bertema “Evaluasi dan refleksi diri, tingkatkan motivasi dan produktifitas aktivis IPM”, berlanjut lebih menarik. Ria Pusvita Sari dipercaya menjadi pemateri Pelatihan Speed Reading. Banyak yang semula berpandangan pelatihan ini akan membosankan. Namun, ternyata tidak demikian. Penyampaian materi yang ringan dan aplikasi pelatihan membuat peserta menjadi tidak jenuh. Selingan game berkelompok juga membuat rasa kantuk menghilang. Nuriyanto, salah satu peserta dari IPM cabang Ujung Pangkah, mengatakan dalam pesan singkat, “Terima kasih kami ucapkan atas suksesnya acara bedah buku dan pelatihan Speed Reading. Kegiatan kemarin benar-benar punya kesan yang sulit dilupakan dan Alhamdulillah punya manfaat yang hebat.”
Menjelang malam, agar acara lebih berwarna dan lebih berhikmah, panitia memutarkan film animasi mengenai hidup dan perjalanan lebah membuat madu hingga mengadili manusia yang seenaknya mengambil makanan lebah ini. Meski dengan genre kartun, film ini mempunyai banyak sekali pelajaran bagi para penontonnya. Setelah selesai menonton, teman-teman diajak berdiskusi, membedah film dan menyampaikan hikmah yang dapat kita teladani.
Dipenghujung acara, teman-teman IPM dari cabang dan ranting Gresik melakukan sharing bersama IPM daerah. Karena kurang afdhol jika problem solving tidak dilakukan. Sehingga pimpinan daerah dapat melihat masalah-masalah yang sedang terjadi di cabang dan ranting. Dan dapat memberikan sedikit masukkan untuk permasalahan IPM di Gresik.
Sebelum berpulang ke masing-masing tempat, teman-teman diajak merenung sejenak. A.Zakikhoirudin dan Wahyi Ba’dal Fitri yang mengisi renungan tersebut, memaparkan 99 kata mutiara yang menyemangatkan diri untuk tampil lebih baik dari sebelumnya. Dan karenanya, IPM harus bangkit dan melahirkan lebih banyak the young islamic generation. (mia)

Sumber berita : PIP PD IPM Kabupaten Gresik

Senin, 25 Januari 2010

APA ITU IPM?

A. BASIS GERAKAN PELAJAR MUHAMMADIYAH




Siapakah basis IPM? Itulah pertanyaan yang selalu menjadi permasalahan yang urgen dan menjadi ranah yang menarik. Karena urgennya persoalan ini dalam muktamar XII IPM di Jakarta melalui proses voting menetapkan bahwa basisnya adalah pelajar. Sebab pelajar merupakan satu kesatuan yang tidak disendiri-sendirikan. Telah ditentukan bahwa basis IPM meliputi seluruh pelajar tanpa memandang etnik, budaya, agama, strata social tertentu.

Sebelum kita melangkah lebih jauh lagi, perlu sekiranya menguraikan apa itu remaja dan pelajar. Remaja dalam sudut pandang usia dan psikologi pada umumnya diketahui seseorang yang memiliki karakter transisi antara masa kanak-kanak dan dewasa dan umumnya berkisar antar umur 12-21 tahun. Pelajar dalam arti konteks adalah mereka yang sedang belajar dilingkungan formal, nonformal maupun informal.

IPM merupakan sebuah entitas gerakan yang berbasis pada pelajar. Basis yang merupakan lahan garapan IPM dalam perjalanan sejarah mengalami perubahan dari tiap periode. IPM dimana telah menetapkan basis gerakannya yaitu pelajar, merupakan penegasan diri dalam pergerakannya untuk memihak terhadap berbagai masalah maupun isu kepentingan pelajar. Inilah kemudian yang membedakan IPM dengan lembaga/organisasi khususnya ortom muhammadiyah.

Disadari maupun tidak saat ini basis IPM (pelajar) hanya dijadikan sebuah komoditas politik dan kepentingan-kepentingan yang tidak berpihak pada kepentingan pelajar. Hal ini membuktikan adanya sebuah indikasi bahwa masyarakat kurang percaya dengan adanya gerakan pelajar yang ada saat ini. Dari beberapa permasalahan inilah kita perlu membuat strategi untuk peran serta menggembalikan kepercayaan masyarakat terhadap pelajar.

Pelajar merupakan kelas social tertentu yang memiliki keunikan tersendiri dibandingkan dengan kelas social yang lainnya. Mereka mempunyai kemampuan yang lebih dibandingkan anak-anak dan memiliki peluang yang masih besar dalam menciptakan perubahan dalam ranah social, politik, maupun budaya. Tetapi kadang pelajar menjadi korban penindasan oleh suatu kebijakan karena psikologisnya yang masih labil serta pandangan masyarakat umumnya bahwa dan pelajar adalah individu tak memiliki kemampuan yang harus dibentuk. Sehingga, kelas ini hanya dijadikan objek saja yang dipandang tak mempunyai kekuatan apapun dalam komunitas masyarakat. Berbagai kepentingan telah sedikit maupun banyak mempengaruhi kehidupan pelajar saat ini.

Di sisi lain, bila pelajar digerakkan sebagai agen perubahan, maka dapat manjadi sebuah lokomotif besar yang dapat menggerakkan roda perubahan social masyarakat bangsa ini kedepan menjadi lebih adil dan demokratis pada era reformasi ini. Karena remaja adalah aset penerus bangsa. Dengan status pelajar ada semangat keilmuan, ketrrampilan, kecendekiawanan yang melekat yang dapat membawa perubahan. Maka diperlukan sebuah tranformasi massifikasi gerakan untuk membangkitkan semangat-semangat dalam individu pelajar sendiri.